(Istri) Pejabat dan Homophobia
Mungkin postinganku kali ini bakal terasa kebablasan untuk sebagian besar orang, tapi saya semakin berharap bahwa saya bukan seorang warga negara Indonesia.
Semua dimulai dengan sebuah pandangan lain dalam melihat semua kasus yang terjadi di Indonesia. Pada hari-hari awal aku menapakkan kaki di Cambridge, aku sudah dihadapkan dengan sebuah peristiwa penyerangan dan pembubaran paksa Q! Film Festival. Suasana yang sangat lain sementara menanti dan melambaikan tangannya melalui pertemuan informal Sunday Social di sini. Tidak ada orang yang mencibir atau memicingkan matanya mendengar kata-kata gay atau lesbian. Semakin hari, semakin banyak pula peristiwa di Indonesia yang kupandang dari perspektif lain. Peristiwa geger Yogya dan pemerintah pusat, isu Gayus, pertandingan sepak bola Indonesia – Malaysia, dan yang terakhir upaya pemblokiran Blackberry. Sungguh, saya malu sendiri menjadi seorang Indonesia setelah membaca semua berita itu.
Tapi ada pula peristiwa-peristwa kecil yang semakin membuatku malu dan berharap bukan orang Indonesia. Beberapa hari setelah Natal, ada BBM dari seorang teman Indonesia yang kebetulan sedang mudik. Dia meminta bantuanku untuk menemani beberapa orang dosen sebuah institusi ternama di Bandung berkeliling Cambridge. Well, karena aku tidak ada kegiatan di hari itu, aku mengiyakan saja permintaan itu. Setelah berhubungan langsung dengan Pak Dw, PIC dari rombongan itu, mulailah kami janjian mau ketemu dimana.
Setelah bertemu dengan rombongan tersebut, ternyata ada atase pendidikan baru untuk KBRI UK. Pengalaman jalan-jalan dengan orang penting, lumayan lah. Tapi ternyata, jalan-jalan dengan (istri) pejabat itu menyebalkan. Waktu si bapak-bapak pejabat itu sibuk berkunjung ke beberapa fakultas untuk studi banding, ibu-ibu itu malah pada ribut ke diriku minta cepet-cepet diantar belanja. Aduuuuuuh!!!
Begitu kami sampai di City Centre, bapak-bapak pejabat dan beberapa ibu mulai bergerilya mencari oleh-oleh khas Cambridge. Entah buku terbitan Cambridge Press atau pernak-pernik yang berbau Cambridge. Maklum, mereka sudah tinggal di London sebelumnya, jadi sudah bisa membeli oleh-oleh yang lain disana. Eh, istri-istri pejabat ini malah ngabur ke Mark & Spencer untuk nyari obralan. Tentu saja mereka digoblok-goblokan sama pak supir. La di London aja ada Mark & Spencer kok,
Setelah selesai belanja belanji, kami semua menuju ke restoran untuk makan sore. Nah, disana beberapa bapak mulai membicarakan seorang transsexual yang mereka lihat di pasar. Dengan nada mengejek dan merendahkan, mereka mulai membuat beberapa komentar yang tidak menyenangkan tentangnya. Mungkin kalau masih di Indonesia, orang-orang masih bisa terima. Tapi dengan kondisi UK yang sangat welcome terhadap LGBT, komentar itu terasa panas di telingaku. Dengan nada netral, aku mulai berkata bahwa trans di Cambridge sangat dihargai. Bahkan ada seorang teman trans yang seorang kandidat Ph.D di bidang Astrophysics.
Bukannya salut, mereka malah mulai meleber ngomong tentang gay dan lesbian. Mulai bergosip tentang kolega mereka di universitas yang dicurigai gay. Sok memberi informasi, aku mulai bicara tentang CUSU (Cambridge University Student Union) LGBT, mereka malah menyalahkan universitas yang memberi tempat terhadap kelompok LGBT. Bahkan ketika sampai pada cerita seorang teman gay yang sudah ditawari menjadi dosen di Harvard University selepas dia lulus kuliah, mereka justru mengelus dada. Menurut mereka, itu sesuatu yang sangat disayangkan. “Sayang ya, pintar-pintar kok gay. Kasihan!”
Aduuuh! Dan derita kupingku tidak berhenti sampai disitu. Seorang bapak yang pernah studi di US dan seorang ibu yang pernah kuliah di luar negeri juga bercerita bagaimana semasa kuliah, mereka punya tetangga gay dan lesbian. Nah, sebagai orang yang seharusnya berpendidikan (dosen universitas bergengsi di Indonesia lo), aku heran mendengar pendapat mereka bahwa gay dan lesbian itu menular.
“Untung saya tidak tinggal lama di situ. Coba kalau lebih lama, bisa-bisa saya ketularan jadi gay!” kata si bapak.
“Aduh, kalau saya malah sudah saya anggap sahabat tu. Eh, ternyata dia lesbi. Jadi takut saya. Cepat-cepat saja saya menghindar tiap kali dia mau mendekati saya!!” sahut si ibu.
Aduuuuuuuuh! Jadi begini ya perlakuan mereka? Lalu apa kata mereka kalau tiba-tiba saat itu juga aku come out? Dengan perasaan mendidih, aku hanya diam saja sambil meneruskan makan. Saat itu juga, aku semakin malu menjadi orang Indonesia.
Pemerintah UK, boleh nggak saya apply visa pengungsi aja? Bener-bener males ni pulang ke Indonesia. Saya malu jadi orang Indonesia…..
January 13, 2011 at 10:00 am
bukankah reaksi orang-orang seperti itu yang membuat kita ciut untuk come-out?
January 13, 2011 at 6:53 pm
Malu aku jadi manusia… banyak spesies makhluk hidup punya anggota minoritas homosexual, cuma manusia yang punya anggota homophobic. Hueheheh. Europe is the most accepting place, I think. The States is better than Indonesia but it’s still rough…
January 13, 2011 at 11:02 pm
Itulah kenapa aku memilih menetap di Jerman. Indonesia kita bagusnya cuma untuk liburan, asik…
Ngomong-ngomong, apa ya komentar mereka kalo pergi ke Berlin? Walikota-nya kan gay… Lha mentri luar negri Jerman juga gay, punya partner pula… Apa mereka masih bisa ngomong?
January 14, 2011 at 10:05 am
gue pengen banget neh tinggal di luar negri… bukan di sini.. di sini gak ada harapan …Manusia di sini parah semua… gak bisa terima apa adanya, kebanyakan menghina padahal mrka gak tau apa2.. ada yg mau bawa gue gak???? hehehe…
January 14, 2011 at 12:01 pm
Bersyukur saja karena Indonesia dan sistemnya dan budayanya, dan pendidikannya, dan orang-orangnya dan tetek bengeknya anda menjadi anda yang sekarang yang salah satunya berhasil berada di Cambridge.
Sayang sebenernya kalo Indonesia dihujat atau menjadi malu menjadi orang Indonesia, sehingga kemudian saya menjadi bertanya apakah data ketidaksukaan orang indonesia dengan LGBT itu sudah mewakili 200 sekian juta isi kepala warga Indonesia? Setahu saya, ada 200 sekian juta kepala dengan 200 sekian juta ide dan aspirasi dan tidak semua anti dengan LGBT dan saya termasuk yang tidak anti dengan LGBT. Jika belum cukup, akan saya perkenalkan dengan banyak lainnya yang tidak anti dengan LGBT
Saya tahu dan baca bahwa anda sudah berpikir jika pembaca postingan ini akan berpikir bahwa anda agak kebablasan dan itu memang terjadi di kepala saya.
Tapi yah semua orang punya hak untuk berpendapat. Anda berhak untuk berpendapat mengenai semakin malunya anda menjadi orang Indonesia. Orang lain juga berhak untuk berpendapat mengenai buruknya menjadi gay atau lesbian atau dekat dengan gay dan lesbian, serta banyak orang lainnya yang juga berhak untuk berpendapat mengenai buruknya banyak hal yang lainnya di luar sana.
Kalau dipikir bukankah lingkaran dengan energi yang negatif itu harusnya diputus? bukan dipupuk sehingga menjadi lingkaran negatif yang lebih besar?
Pemahaman mengenai Individual differences, bahwa setiap orang dilahirkan unik dan berbeda itulah yang selalu menjadi guidance saya untuk berusaha tidak menghakimi orang lain. Alih-alih menghakimi, saya lebih suka menjadikan orang-orang disekitar saya sebagai petunjuk bahwa saya harus lebih bersyukur.
January 14, 2011 at 12:07 pm
@BaS : Hmm, saya malu bukan hanya karena masalah ini. Ada banyak faktor, dan kebetulan ini salah satunya saja. Saya malu melihat semua persoalan kecil-kecil yang dibesar-besarkan di negara Indonesia. Bukan hanya karena menjadi seorang LGBT saja.
Ada pengalaman di KBRI yang sudah membuatku malu jadi orang Indonesia, karena perlakuan staff mereka kepada orang asing. Bagaimana mereka tidak mampu bersopan santun. Melihat kembali kondisi negara Indonesia dari perspektif lain, ternyata memang mampu mengubah pemikiran saya. Sungguh, saya melihat Indonesia dari sisi lain.
January 14, 2011 at 12:09 pm
Oh ya, sebenarnya kalau dibaca lebih lanjut lagi, saya pun malu termasuk karena tingkah norak ibu-ibu pejabat itu. Bukan hanya karena masalah LGBT.
January 14, 2011 at 12:38 pm
Sekali lagi ini bukan untuk mendebat anda karena sekali lagi itu hak anda untuk berpendapat dan saya hanya pembaca setia yang bersuara melalui perspektif yang juga berbeda.
Saya paham bahwa proses cerita anda tidak hanya berkisar di masalah LGBT. Jika kemajemukan masalah yang menghinggapi anda menuntun pikiran anda menjadi malu menjadi orang Indonesia, saya kemudian mulai me-reka-reka cerita yang mungkin bisa terjadi.
Tapi ya sudahlah, saya sudah mengikuti blog anda dalam waktu yang cukup untuk kemudian menjadi kaget dengan perubahan perspektif anda. Kaget untuk kemudian tetap menjadi ingin tahu kelanjutan kisah hidup anda melalui postingan berikutnya
May 25, 2011 at 12:21 pm
lulusan perguruan tinggi ga menjamin jadi orang berpendidikan. welcome to indonesia. #miris