Gay Corner
Sebagai seorang yang terbiasa dengan gaya hidup komunal di Indonesia, masa-masa awal tinggal di asrama Cambridge sangat tidak menyenangkan. Mau tidak mau, aku membandingkan gaya hidup asrama di Inggris dengan kos-kosan di Indonesia. Kebanyakan kos-kosan di Indonesia hubungan antar penghuninya terbilang cukup dekat. Bahkan, setiap orang bisa dengan bebas keluar masuk kamar masing-masing. Atau setidaknya, mereka saling kenal.
Ini? Suasana begitu sepi, senyap, tanpa suara. Semua pintu tertutup. Gimana bisa kenalan?? Tiga hari pertama rasanya menyesal tinggal disini. Serasa ada di rumah hantu. Setiap saat, kuping selalu berjaga-jaga, mendengar siapa tahu kamar depan terbuka dan bisa mengenal penghuninya. Ada 4 kamar di hall-ku, dan aku tidak tahu siapa saja penghuni kamar nomor 16, 17, dan 18.
Eh, di hari keempat, ada suara orang masuk ke kamar 18. Hore!!! Langsung saja pintu kubuka dan dengan sok ramah aku berkenalan. Cewek gendut dari Belgia. Ah, jauh dari harapan. Tadinya berharap cewek sexy atau cowok tampan pecinta lelaki juga. (Pikiran sudah melayang nggak jelas. Hehehehe!) Tapi sudahlah, daripada tidak ada teman.
Beberapa hari setelah itu, seorang teman memperkenalkan temannya yang kebetulan satu fakultas denganku. Cewek Cina manis (yang sayangnya sudah punya satu anak berumur 10 tahun) bernama Haiyun. Karena faktor fakultas, kami jadi berdiskusi dan janjian berangkat bersama. Seteah tanya-tanya di mana dia tinggal, ternyata Tante Haiyun ini penghuni kamar nomor 16. Waaaaa!
Suatu malam, ketika rasa penasaran tentang kehidupan LGBT di Cambridge menyerang (dan pas kebetulan ada acara di klub untuk pelajar LGBT), aku memberanikan diri untuk berangkat sendirian ke club. Malam-malam jam setengah 11. Eeh, sampai di club, ternyata aku bertemu dengan Charline, si cewek Belgia itu. Wahahahaha! Kami malah jadi lontang-lantung bersama.
Nah, selang beberapa hari, ada LGBT Welcoming Night khusus untuk penghuni asrama. Aku dan Charline berangkat bersama. Lumayan, ada juga tuh yang super cuuuuuuuuute! Untuk angkatan baru, yang terang-terangan open dan datang ke LGBT Welcoming Night ada 5 orang, dan Charline satu-satunya cewek yang datang. Nah, setelah kenalan dengan semuanya, hanya tersisa aku, Joel, si cowok Kanada, dan Phuong, cowok Vietnam yang sudah 3 tahun tinggal di asrama itu. Pembicaraan yang berlangsung sampai larut malam membuat kami bertiga merasa klop. Pulang bersama ke kamar masing-masing, betapa kagetnya aku waktu tahu bahwa Joel ternyata penghuni kamar 17!!!
Jadi, dalam empat kamar di hall kami, semuanya lengkap. Ada straight, ada gay, ada lesbi, dan ada bi. Kebetulan yang sangat menyenangkan. Dan semalam, sepulangnya kami bertiga dari acara seminar LGBT (iyaaaa, aku jadi aktivis LGBT disini), Charline memberi nama Hall kami Gay Corner. Niceeeeee!
October 16, 2010 at 4:39 pm
Haha, you’re like a gay magnet. Nice corner, though. Kamu yakin waktu daftar asrama nggak ada form ‘sexual orientation’? Hihihi, nggak di sini nggak di sana, sama persis yah…
January 13, 2011 at 9:29 am
Add gua