You can’t take a trip, if you don’t first say goodbye
LIrik lagu itu menggambarkan bagaimana dalam hidup ini kita kadang-kadang harus meninggalkan sesuatu untuk memulai hal yang baru. Dan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada saat bertemu dan saat berpisah. Kadang-kadang memang susah mengucapkan selamat tinggal itu, terutama kepada seseorang yang cukup dekat dengan kita, tapi kalau itu harus dilakukan untuk kemajuan dan kebahagiaan tersebut, keikhlasan lah yang harus menjadi ujung tombak lidah kita.
Beberapa hari yang lalu, Cing mengajakku untuk menemani dia dan beberapa teman-nya dari luar kota yang datang berkunjung ke Yogya. Sudah jauh-jauh hari acara tersebut direncanakan, sehingga aku punya kesempatan untuk mengatur jadwalku. Permintaannya adalah menemani mereka untuk pergi berwisata ke pantai-pantai di garis Gunung Kidul. Kuiyakan saja, karena kupikir dia butuh seorang lelaki untuk meyakinkan keluarganya bahwa akan ada yang mengawal perjalanan mereka semua. Yah, walaupun Cing memang sebenarnya kadang terlihat lebih tangguh ketimbang lelaki lain, tapi tetap saja 4 orang wanita yang bepergian jauh ke pedesaan tanpa pengawalan hanya akan menjadi sasaran empuk dari godaan para lelaki. (Wah, kalau yang ini, pasti Cing tidak mungkin tergoda seorang lelaki, kecuali kalau yang menggodanya seorang Andro).
Kami akhirnya bertolak dari kota Yogya pukul 4 dinihari, karena diperkirakan perjalanan akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Tujuan utamanya adalah melihat matahari terbit di Pantai Krakal. Lumayanlah, menikmati pantai di pagi hari bersama 3 wanita cantik. Hihihihi, Cing tidak pernah terhitung wanita cantik. Malah justru dia menjadi sainganku dalam mencari wanita cantik. Maklum, selera kami sama!
Dalam perjalanan menuju hotel untuk menjemput teman-temannya, barulah Cing mengutarakan maksudnya mengundangku. Bukan untuk menemaninya, tetapi sebagai sebuah perjalanan perpisahan. Dia akan bertolak ke Semarang untuk mengejar pekerjaan impiannya keesokan harinya.
Baru beberapa bulan dia kembali ke Yogya setelah bermukim di Surabaya selama beberapa tahun untuk kuliah dan menjalani kerja praktek selama setahun di Belanda. Sekarang dia sudah harus pergi lagi. Rasanya sedikit sedih untuk melepas kepergiannya lagi, setelah bisa berjumpa dan beraktivitas bersama selama beberapa saat. Seorang teman yang sudah kukenal semenjak kami masih berumur tiga tahun, menjadi sahabat, bertengkar, menyanyikan lagu-lagu Mandarin oldies yang sama, dan bahkan baru-baru ini kami come out bersama. Ternyata setelah sekian lama berpisah, menjalani jalan yang berbeda, kami berakhir pada permasalahan orientasi seksual yang sama. Sama-sama menyukai sesama jenis! Hihihihi! Dan parahnya, ternyata selera cewek kami berdua hampir sama. Bisa-bisa kami rebutan cewek. Ga lucuuuu!
Dengan benak yang dipenuhi pikiran itu, jadilah tiga temannya seolah diabaikan dan tidak memperoleh perhatian yang besar dalam perjalanan itu. Kami berbincang-bincang cukup lama di dalam mobil, membicarakan hal-hal yang sifatnya roaming internasional bagi ketiga temannya. Mulai dari memori sewaktu SD, mengenai cita-cita dan keluarga.
Bahkan ketika sampai di pantai, kami menyusuri pantai itu berdua, sementara ketiga gadis yang lain asyik berfoto-foto. Dalam keterasingan dari dunia itu, kami berdua mulai membicarakan sisi lain dari kehidupan kami yang tidak diketahui banyak orang. Bagaimana kegagalan cinta kami, bagaimana kehidupan keluarga para gay dan lesbian yang baik. DIa menceritakan mengenai wanita-wanita yang pernah dicintainya, dan bagaimana perjalanan selanjutnya. Aku mencurahkan semua kisah masa lampau tentang lelaki-lelaki yang pernah mengisi hidupku. Tentang keluarga kami, yang sangat susah untuk dihadapi, apalagi kalau kami benar-benar come out kepada keluarga.
Dalam perjalanan pulang, kami menyanyi bersama diiringi oleh alunan MP3 Melissa Etheridge. Sebodo amat dengan tiga gadis lain yang tergolek di jok belakang. Cing hanya berkomentar, “Dulu waktu kecil, kita menyanyi bersama lagu-lagu Teresa Teng, sekarang setelah kita dewasa, ternyata masih bisa menyanyi bersama lagu-lagu Melissa Etheridge!”
Rasanya hari itu benar-benar menjadi sebuah perjalanan yang tidak terlupakan. Undangan perpisahan yang disamarkan dengan permintaan minta tolong untuk menemaninya dan teman-temannya.
EPILOG : Ternyata, teman-temannya dengan iseng mengambil beberapa foto kami yang sedang berdua, sehingga member kesan bahwa kami sedang pacaran. Gila, mana mungkin daku pacaran dengan cing? Parahnya, foto itu diupload di facebook!!! Huahahahahahahahahaha!!!!!!!!
memasang muka jijik dan berebutan masuk ke tim negatif. Nah, ironisnya lagi, gays, 4 dari 6 siswa di situ membunyikan gaydarku dengan sangat kuat. Sejak awal ketemu dengan mereka, sebuah suara keras di dalam kepalaku sudah menjerit-jerit, “Cong! Cong! Cong!” Kemeja yang kancingnya dibuka banyak sampai pamer dada, dengan kalung kayu, plus gerakan-gerakan gemulai ditambah dengan bibir monyong dan suara halus. Ya ampun, super ngondek deh!
Setelah Cae datang terlambat dan selesai menyantap makanannya (sementara kami sudah menyelesaikan porsi kedua), diskusi bertambah seru karena Git masih terpana dengan perubahan Cae yang tadinya seorang anak culun menjadi seorang yang sangat metrosexual. Entah kenapa, masih belum ada momen yang terasa sangat pas untuk mengatakan hal itu. Cing tidak mau memulai, sementara kami butuh starter.
Dan di dalam club, terjadilah hal-hal yang sudah diramalkan teman-teman di Yogya. Tidak bisa bergoyang dengan luwes!! Benar-benar goyang kaki gajah!!!! Selama mengikuti musik, yang bisa bergerak dengan luwes hanya kaki, sedangkan gerakan tangan tidak bisa seliar orang lain. Yang ada di pikiran waktu itu, “Aduh, kenapa jadi senam Sajojo yah??????? Ato poco-poco????”