The Impossible Dream

Posted in Uncategorized on January 28, 2010 by silentsection

Ada beberapa teman yang langsung mengajukan pertanyaan kepadaku mengenai masalah yang menimpaku di awal tahun ini. Rata-rata mereka heran, kenapa aku tidak keluar saja dari rumah dan hidup sendiri. Kenapa dengan penuh kesadaran diri aku tetap tinggal bersama keluargaku yang intimidatif itu.

Sejujurnya, aku juga sempat menyesali keputusan untuk tetap tinggal bersama mereka. Keinginan untuk keluar itu sempat menggebu-gebu, melarikan diri dari masalah itu. Kadang terbersit keinginan juga untuk pergi, bahkan doa yang sering kuucapkan adalah agar aku mati saja.

Hingga beberapa hari setelah itu, seorang teman di kampus tanpa sengaja mengajakku membicarakan salah satu kelas yang pernah kami ambil bersama. Di kelas itu, ada sebuah lagu yang pernah kami bahas. Lagu kuno, dari tahun 1978, yang mungkin tidak banyak diketahui orang. Tapi liriknya memang pernah sangat mempengaruhi diriku dalam menerima keadaanku. Dan saat itu, lagu itu pun kembali datang untuk meneguhkan.

To dream the impossible dream
To fight the unbeatable foe
To bear with unbearable sorrow
To run where the brave dare not go

To right the unrightable wrong
To love pure and chaste from afar
To try when your arms are too weary
To reach the unreachable star

This is my quest
To follow that star
No matter how hopeless
No matter how far

To fight for the right
Without question or pause
To be willing to march into Hell
For a heavenly cause

And I know if I’ll only be true
To this glorious quest
That my heart will lie peaceful and calm
When I’m laid to my rest

And the world will be better for this
That one man, scorned and covered with scars
Still strove with his last ounce of courage
To reach the unreachable star

Lagu tentang mencoba untuk tidak menyerah dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Walaupun  orang-orang menyebut itu mustahil, tapi tetap bertahan. Dan walaupun pada akhirnya tetap tidak berhasil, setidaknya kita telah mencoba. It’s better to die trying than to die for nothing, eh?

Dan pada prinsipnya toh, hidup itu adalah serangkaian masalah. Kita tidak bisa lari terus-menerus dari masalah, karena itu berarti kita akan lari dari hidup itu sendiri.

Mungkin aku emang bukan orang yang sangat kuat, dan akan mati dalam usahaku itu. Atau mungkin suatu saat aku akan menyerah, tapi yang jelas, belum saat ini!

Mata itu

Posted in Uncategorized on January 28, 2010 by silentsection

Tragedi di awal bulan ini menyisakan banyak sekali kepedihan. Salah satunya adalah pemberitahuan akan keadaanku kepada salah seorang tetangga yang “pernah” sangat menyayangiku dan menganggapku sebagai anaknya sendiri. Ibunda tercinta sengaja melakukan hal itu untuk membuatku malu dan tertekan. Kejam nian memang wanita itu.

Tentu saja, tetangga itu, sebut saja Bu Ons, langsung shock dan histeris. Dari cerita yang kudengar dari tetangga lain, konon Bu Ons langsung pingsan dan membikin kehebohan di sekitar rumahnya.

Beberapa hari setelah itu, aku bertemu dengan Bu Ons dalam sebuah acara di perumahan. Aku berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku merasa terintimidasi oleh pandangan matanya.

Ada sesuatu yang lain dari mata itu, mata yang memandangku dengan sirat belas kasihan. Ia menganggapku sebagai seorang yang bersalah, penjahat yang patut dikasihani. Bukan, mungkin lebih tepat sebagai seorang anak yang bersalah, dihukum dan patut dikasihani. Sebersit kejijikan juga terbaca dari pandangan mata itu dan genggaman tangannya ketika bersalaman denganku.

Entahlah, aku tidak tahan menatapnya. Aku tidak merasa bahwa aku perlu diberi belas kasihan. Tidak ada kesalahan dalam diriku, setidaknya itulah yang aku yakini. Sementara di mata Bu Ons, mungkin aku adalah manusia dengan seonggok dosa.

Tiba-tiba, ia berbisik di telingaku, “Rajin-rajin berdoa dan ke gereja ya, biar Tuhan yang membantu kamu untuk kembali ke jalan yang benar. Kalau berdoa dengan sungguh-sungguh, pasti kamu akan bisa lurus kembali!”

WHA??? Rasanya geli, tapi mau ketawa kok masih rasanya ini hati tertusuk-tusuk karena pandangan matanya. Entahlah, rasanya mata itu benar-benar menelanku.

Tragedi di Awal Tahun

Posted in Uncategorized on January 5, 2010 by silentsection

Menapaki tahun 2010 ini, ada harapan cerah yang menggantung. Apalagi tahun 2009 sudah kututup dengan kecelakaan yang cukup parah. Harapannya, kecelakaan itu sebagai suluh pembuang sial 2009 dan kesialan terakhir, sehingga 2010 bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sayang, tahun 2010 justru dibuka dengan tragedi yang sangat besar dan parah.

Di hari pertama tahun 2010, secara tidak sengaja HP cong ketinggalan di kasur sewaktu aku ke kamar mandi. Ketika aku balik mau mengambilnya, HP itu sudah raib entah kemana. Kucari-cari hingga ke seluruh rumah, tidak ada. Kumiscall, sudah tidak berbunyi. Sementara waktu sudah mendesak untuk berangkat ke acara natalan. Akhirnya, kuputuskan untuk meninggalkannya dulu.

Di acara natalan, adikku tiba-tiba mendekatiku dan berbisik. “Aku butuh ngomong sama kamu nanti kalau pas ibu nggak ada di deket kita!” Segera saja aku menggamit tangannya dan bertindak seolah-olah kami sedang membicarakan sesuatu sambil pergi ke tempat sepi.

“Hape-mu disembunyikan ibu. Tadi waktu kamu pergi, ada SMS masuk yang langsung dibaca ibu. Itu SMS dari kecenganmu yang di Jakarta. Ibu langsung mukanya merah dan menunjukkannya padaku! Awas, tapi jangan bilang ibu kalau aku yang kasih tahu kamu!”

Siiiiiiing. Dadaku langsung berdegup kencang, perutku langsung mual-mual. Kemungkinan-kemungkinan buruk langsung melintas di pikiranku. Doa natalan bersama sekalipun tidak bisa mengalihkan pikiranku yang kalut. Syukurlah, dengan natalan itu, ibu bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi aku tahu, dia akan menyimpan kemarahan itu. Selama seharian, aku hanya terdiam dan tidur di rumah, mencoba tidak menemui ibu.

Sampai akhirnya aku berpikir bahwa aku tidak bisa menghindar selamanya. Cing menyarankan aku untuk mengakui semuanya saja. Papi Cantik yang kutelepon hanya menyarankanku untuk menghadapi semuanya dengan ikhlas, termasuk kemungkinan terburuk.

Benar, suasana di ruang makan sudah tegang, tapi aku harus bertindak seolah-olah tidak tahu apa-apa. Sampai akhirnya keluar sebuah pertanyaan ketus dari mulut ibu, “Emang enak jadi homo?”

Aku dicecar selama berjam-jam. Semuanya menyakitkan hati, mengingat itu keluar dari mulut bapak dan ibu sendiri.

Mereka bahkan sampai hati menuduhku menerima sejumlah besar uang transferan di bank, bahwa aku dibayar untuk berhubungan seks, bahwa aku cowok panggilan yang melayani orang-orang dari luar kota. Di dalam hati, aku berteriak, “Aku memang cong, mungkin bukan orang  baik-baik, tapi aku juga tetap masih punya harga diri!!”

Di penghujung malam, aku disodori pilihan, Keluar dari jaringan homoseksual atau keluar dari rumah. Jiah? Jaringan? Kaya semacam MLM dan gank? Ibuku bahkan bertanya, siapa yang merekrutku, apakah ada semacam sumpah khusus untuk menjadi gay, apakah ada sanksi dari teman-teman yang lain.

Mungkin aku yang terlalu pengecut, atau terlalu bodoh dan menyayangi keluarga, jadi aku memilih untuk tetap bersama dengan keluargaku. Konsekuensinya, HP, Modem, Laptop, Kunci rumah, Kartu kredit, STNK, dan kunci motor ditahan selama sebulan. Bahkan tadinya sempat muncul usulan dari ibunda agar aku keluar dari tempat kerjaku yang sekarang, karena dianggap aku terpengaruh lingkungan sekitar kerja.

Masalah masih belum selesai keesokan harinya. Aku masih dicecar dengan kata-kata dan tuduhan menyakitkan. Termasuk asumsi mereka bahwa kalau menjadi gay, aku harus siap untuk mati dimutilasi, harus siap untuk menjalani BDSM, harus siap untuk hidup tua dan tersiksa sendirian karena tidak ada yang merawat.

Yang lebih buruk lagi, ibuku memberitahukan keadaanku kepada seorang tetangga yang sudah menganggapku anak sendiri. Kontan si ibu tetangga itu shock besar, dan kesalahan itu pun ditimpakan kepadaku, karena aku sudah membuat orang yang menyayangiku shock berat. Kata-kata tuduhan bahwa aku tidak berbakti pada orang tua pun keluar dengan sedemikian mudahnya. Tidak berbakti dan tidak bisa membanggakan orang tuanya, tidak sukses, berdosa, menyimpang, dll.

Tidak cukup sampai di situ, seorang tante yang sangat sayang denganku juga diberitahu oleh ibu. Sampai rasa-rasanya aku ingin berteriak, “Sudah, tulis saja di koran biar semua orang tahu!”

Aku lebih memilih mendapatkan siksaan fisik daripada siksaan mental kaya gini. Mendingan dipukulin sampai mati sekalian deh. Karena nila setitik rusak susu sebelanga!

Malam harinya, aku dipaksa untuk online dan menghapus account manjam di hadapan bapakku. Untunglah mereka tidak tahu bahwa aku punya blog ini. Yang mereka tahu adalah official blog yang isinya baik-baik.

Satu lagi tuntutan dari ibu yang sangat tidak masuk akal, aku harus menikah di akhir 2010! Gila!!! Itu menggelikan dan tidak akan menyelesaikan masalah.

Untunglah semalam aku bisa mendapatkan hape dan modem kembali. Entah malaikat mana yang melembutkan hati ibu. Tapi kartu kredit dan laptop masih ditahan.

PS : Maaf buat teman-teman blogger yang menantikan postingan buka kartu untuk akhir tahun. Karena tragedi itu, aku baru bisa online hari ini. Postingan itu akan menyusul, yang jelas masih belum telat karena masih Januari. Ada lagi yang bersedia dibuka kartunya?

Bahagia?

Posted in Uncategorized on December 15, 2009 by silentsection

Akhir-akhir ini aku menemui pertanyaan yang sepertinya baru banyak dibahas oleh para blogger. Tentang kebahagiaan. Mulai dari postingan Reis yang menanyakan tentang kebahagiaan, sampai ko Nei yang minta dibaca lewat Tarot mengenai kebahagiaannya. Pertanyaan pertama yang diajukan adalah, “Apakah aku bahagia?”

Sepertinya memang sudah menjadi naluri alami setiap orang untuk mencari kebahagiaan itu. Maka dari itu, bermunculanlah berbagai asumsi tentang kebahagiaan itu. Ada yang menyamakan bahagia dengan kepuasan dan keterpenuhan kebutuhan. Ada yang menyamakan bahagia dengan kehidupan tanpa rasa sedih, yang ada hanya kesenangan.

Postingan ini juga pada akhirnya berusaha untuk mendefinisikan kebahagiaan, berdasarkan keyakinanku sendiri. Mungkin beberapa orang akan berpendapat lain. Sah-sah saja sih. Toh aku hanya mau membagikan gagasan saja.

Untuk seorang Zhou Yu, kebahagiaan itu berbeda dengan kesenangan. Kebahagiaan lebih bersifat kekal dan immaterial, sementara kesenangan lebih bersifat sementara dan material. Ada orang yang mengatakan bahwa ia akan bahagia ketika semua kebutuhannya terpenuhi, memiliki segala sesuatu yang diinginkannya. Tapi sebenarnya, itu bukanlah kebahagiaan. Ada sebuah perbedaan besar antara happiness dan excitement. Masalahnya, banyak yang tidak menyadari perbedaan antara kedua konsep itu. Sama halnya dengan banyak orang yang salah kaprah antara love dan lust.

Kebahagiaan adalah ketika seseorang tidak lagi memiliki perasaan benci kepada orang lain. Dengan tidak adanya perasaan benci kepada orang lain, maka dia tidak akan memiliki beban apapun. Ketika tidak ada perasaan benci, bahkan kebencian yang dimiliki orang lain terhadapnya pun tidak akan terasa. SUatu hal yang sebenarnya sangat susah, karena perasaan benci itu sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup kita.

Kebahagiaan juga ada ketika kita tidak lagi ingin memiliki. Tidak ada obsesi, karena dengan adanya rasa ingin memiliki itu, kita akan dikuasai oleh rasa kemaruk dan ketidak puasan. Sehingga kita akan selalu merasa kurang. Dari kekurangan itulah, kita sudah masuk kedalam ketidak bahagiaan.

Kebahagiaan ada ketika kita tidak lagi terikat pada apapun. Rasa terikat dan memiliki itu akan senantiasa membuat kita was-was dan takut. Ketakutan itu pada akhirnya akan mengikis kebahagiaan kita.

Dalam ajaran sebuah agama, ada doa yang meminta agar semua makhluk senantiasa berbahagia. Mungkin di satu sisi itu cukup sulit, karena semua makhluk mencakup juga orang-orang yang memusuhi kita. Kadang ego kita tidak mau melihat musuh kita mendapatkan “kebahagiaan”. Tapi sebenarnya dengan prinsip bahagia bebas dari perasaan apapun, sebenarnya kalau mereka berbahagia, berarti mereka juga tidak lagi memusuhi dan membenci kita. Mereka tidak lagi membenci kita, dan kita juga tidak punya lagi perasaan apapun terhadap mereka. Ini yang kadang-kadang terlupakan dan tertutupi oleh ego kita sendiri.

Sebenarnya loh, yang menghalangi kita semua untuk mencapai kebahagiaan itu bukanlah orang lain, tetapi EGO kita sendiri. Kebahagiaan sudah ada di depan mata, tapi EGO kita yang berukuran raksasa itu menutupi mata kita.

Aku sendiri? Sepertinya masih susah juga menguasai ego. Tapi setidaknya ada percobaan. Jadi, mari kita taklukan saja ego kita dulu, tidak usah mencari yang aneh-aneh. Pursuit of happiness!!!!

Hari Kedua

Posted in Uncategorized on December 11, 2009 by silentsection

Sehari setelah makan malam bersama Jo. Aku berjanji untuk bertemu dengannya lagi karena masih ada barang yang harus diantar. Barang yang sudah tertunda lama untuk sampai ke tangannya. Sebuah syal rajutan warna merah (yang ceritanya bisa dibaca di sini) dan sebuah DVD Concert Russel Watson.

Kebetulan hari itu, ada seorang teman lama yang kembali ke Yogya, dalam rangka cuti. Cewek yang dulu pernah berpura-pura menjadi istriku dan menghebohkan ruang dosen. Dia mengajakku makan siang.

Ya sudahlah, karena aku malas bertemu Jo sendirian, kuajak saja Non ini. Kebetulan dia juga penasaran melihat seganteng apakah cina satu ini, sampai bisa membuatku termehek-mehek.

Setelah memberi kabar bahwa aku akan datang, respon dari Jo terasa terlalu hangat. “Iya, datang aja. Kutunggu di hotel, lalu kita bisa sekalian makan siang” Igh, orang satu ini, gatel bener sih? Ketika kuberitahu bahwa aku datang dengan teman lama dari luar pulau, dia hanya diam dan tidak menjawab.

Akhirnya kami berdua menuju ke hotel Jo. Hotel yang terletak di dalam gang kecil. Tadinya aku sudah ragu untuk belok, tetapi Non yang pegang setir nekat berbelok (soalnya kalau aku yang jadi supir, dia sewot karena terlalu pelan).

Jo keluar dan menerima dua barang itu. Dia tahu bahwa DVD Russell Watson itu pasti dariku. Aku menyerahkan syal rajutan itu sambil berkata, “Ini hasil rajutan ibuku sebagai tanda terimakasihnya kepadamu karena sudah mengisi hidupku selama 50 hari dulu!” Dia cuma terbengong-bengong.

“Jadi ibumu tahu?”

“Iya, dia tahu perasaanku saat itu. Dan pada akhirnya aku bercerita padanya!” Minus detail bahwa aku jalan dengan cowok, membiarkan ibuku berasumsi bahwa aku mendekati cewek, tambahku dalam hati. Hihihihi!

“Aku pamit dulu ya! Masih ada janji dengan Non!” sahutku sembari menutup pintu mobil. Dia menunggu di depan pagar hotel dan melepas kepergian kami. Eh, ternyata mobil sewaan gede dan panjang itu sulit untuk keluar dan berputar dari gang itu. Terpaksa aku turun dan memberi aba-aba. Beberapa bapak-bapak di sekitar situ juga membantu memberi aba-aba. Si Jo hanya diam terbengong di pagar.

Setelah beringsut-ingsut di daerah situ, kami berhasil keluar. Di perjalanan, bergosiplah kami berdua.

“Sekarang aku tahu kenapa kamu tertarik dengannya. He’s not my type, but he is somewhat worthed, physically. He’s cute, calm, and looked intelligent. Ga heran kamu dulu termehek-mehek!”

“Bener kan, jeung? Cuma heran aja dengan muka kaya gitu, dia bisa melakukan hal yang tidak terbayangkan! Tadi ngeliat ga kalo dia cuma diem aja?”

Non menjawab dengan pedas, “Iya. Cuma diem aja, ga bantuin. Itu sih bukan cuma gay, tapi cewek banget!”

Dan berakhirlah dua hari ini. Tidak ada hari ketiga dan selanjutnya. Kuserahkan dia pada rimba Jakarta deh! Hihihihi!!!!

Hari Pertama ……

Posted in Uncategorized on December 10, 2009 by silentsection

Secara kebetulan setelah postingan yang kemarin, ada sebuah SMS yang masuk ketika aku sedang menunggui ujian presentasi.

“Hai, aku di yogya nih. Ada waktu untuk makan malam nanti?” Nomor yang tidak tega untuk kuhapus dari phonebook. Nomor Jo.

Ada rasa enggan untuk bertemu. Aku masih takut pertemuan itu akan membuka kembali luka lama yang sudah kucoba kubur. Tapi di sisi lain hatiku, ada percikan rindu untuk menyapa kembali pribadi itu. Tidak mudah untuk melepaskan dia seutuhnya, walaupun hanya bertahan sebagai teman. Bawah sadarku pun menyadari bahwa dia sudah menjadi milik orang lain, dokter Singapore yang lebih kaya dan bisa membiayainya tour keliling Asia. Dan aku menyadari batasan-batasan yang ada.

Dan kami berjanji bertemu untuk makan malam. Di salah satu tempat yang pernah menjadi saksi kebersamaan kami, KFC depan Mirota Kampus.

Hatiku galau dan kalut menghadapi pertemuan itu. Tapi aku sendiri sudah memilih untuk mengiyakannya. Apapun konsekuensi yang terjadi, apakah aku akan hancur berkeping-keping lagi, aku harus siap menanggungnya.

Setengah tujuh lebih lima, dan aku sudah sampai di KFC. Belum ada dirinya, dan aku hanya membuka netbook, menyelesaikan koreksian ujian akhir semester. Cukup lama hingga akhirnya dia datang. Masih seperti yang dulu, tidak ada yang berubah kecuali lengan yang mengecil dan lebih coklat. Tapi aku merasa biasa-biasa saja, tidak ada sesuatu yang spesial darinya.

Suasana terasa aneh. Pembicaraan kami terpotong-potong, tidak mengalir dengan lancar. Awkward! Sama sekali lain dari beberapa bulan yang lalu.

Pada intinya, dia membicarakan tentang Kev, si dokter yang membiayai seluruh kehidupannya selama empat bulan ini. Bagaimana mereka saling mencintai, bagaimana reaksi keluarga mereka mendengar pengumuman bahwa mereka berdua ingin meresmikan hubungan mereka di hadapan notaris. Tapi Jo takut menghadapinya karena beda kewarganegaraan. Yah, setidaknya, dia sudah mendapatkan apa yang dia ingini.

Sehabis makan, dia mengajakku untuk minum kopi yang kutolak dengan alasan aku hanya membawa uang pas dan harus bangun pagi karena keesokan harinya ada jadwal ujian pagi.

Kami berdua beranjak dari kursi, dan dia memegang tanganku sambil bertanya, “Mau mampir ke hotel?”

BUSYEEET!!!! Jadi apa maksudnya itu? Dia pamer-pamer kedekatannya dengan Kev, tapi dia mencoba mengajakku masuk ke kamarnya?? (Doubleag3nt, gw emang belum pernah nyicipin dia, tapi gw juga nggak mau nyicip kalo kondisi udah kaya gini. Daku masih punya harga diri dong!)

Masih mengulangi alasan ujian pagi-pagi, aku memisahkan diri darinya.

File Skripsi Itu

Posted in Uncategorized on December 8, 2009 by silentsection

Beberapa hari yang lalu, netbook tercinta mulai terasa sempit dan sesak. Berjubel dipenuhi hasil downloadan film-film seri, mulai dari Heroes hingga The Simpson. Berhubung semakin banyak data yang harus disimpan, sepertinya sudah saatnya untuk membersihkan harddisk.

Folder demi folder kujelajahi, mencari file mana yang bisa dihapus dan file mana yang harus dibackup ke DVD.

Tiba-tiba ada dua buah file doc yang tidak terletak di bagian My Document. Tergeletak begitu saja diantara kerumunan file-file media. Judulnya Skripsi. Hanya satu file. Yang jelas, itu bukan skripsiku. Milikku terpisah menjadi beberapa bagian.

Ketika kubuka, ternyata itu skripsi milik Jo. Pekerjaan yang mewarnai hubungan singkat kami itu. Setiap kali aku datang ke kos-nya, aku pasti mendapati dia duduk di depan laptopnya. Entah mengetik skripsinya atau menonton film karena sudah jenuh berkutat dengan pekerjaannya itu.

Kadang ia memintaku untuk menemaninya mencari buku di perpustakaan atau di toko buku bajakan. Yang kuingat, aku membelikannya “Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional” hanya karena dia tidak bisa menemukan buku itu dengan harga 5000 rupiah.

Skripsi yang sempat menorehkan guratan-guratan tambahan pada dinding yang sudah hampir retak pada saat itu. Pada awalnya ia memintaku mengedit terjemahannya, dan aku setuju. Lalu ia mulai memintaku menerjemahkan semua bagian skripsinya (120 halaman). Masih pula ia memintaku mengerjakannya dengan cepat. Seolah-olah ia adalah tuanku dan akulah budak beliannya.

Sebuah skripsi yang kalau dibaca oleh para akademisi mungkin akan membuat mereka mengernyitkan mata karena format penulisannya. *Bukannya mau nyindir, tapi itu skripsi memang format penulisannya mirip artikel majalah, yang bikin daku frustasi waktu baca*

Ah, dia sudah pergi dan meninggalkan goresan yang cukup mendalam. Dia pergi, dan sudah memilih jalannya sendiri. Dan aku juga masih memilih untuk berdiri sendiri, memilih untuk mengambil pelajaran dari rasa sakit itu. Sampai aku dilanda letupan-letupan kecil nostalgia dan memori yang dibawa oleh file skripsi itu.

Tanganku sudah ada di atas tuts delete.

Hingga sekelebat pemikiran hinggap di kepalaku. Bahwa sejelek apapun skripsi ini, sejahat apapun dia denganku dulu, ini adalah hasil karyanya. Tulisan yang dikerjakannya dengan mencurahkan banyak waktu dan pemikiran. Penelitian yang juga melibatkanku, mengutip beberapa pemikiran dan gagasanku.

Biarlah file itu tetap ada di dalam komputerku. Menghapusnya berarti juga menghapus beberapa pikiran dan gagasanku.

Parting

Posted in Uncategorized on November 23, 2009 by silentsection

You can’t take a trip, if you don’t first say goodbye

LIrik lagu itu menggambarkan bagaimana dalam hidup ini kita kadang-kadang harus meninggalkan sesuatu untuk memulai hal yang baru. Dan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada saat bertemu dan saat berpisah. Kadang-kadang memang susah mengucapkan selamat tinggal itu, terutama kepada seseorang yang cukup dekat dengan kita, tapi kalau itu harus dilakukan untuk kemajuan dan kebahagiaan tersebut, keikhlasan lah yang harus menjadi ujung tombak lidah kita.

Beberapa hari yang lalu, Cing mengajakku untuk menemani dia dan beberapa teman-nya dari luar kota yang datang berkunjung ke Yogya. Sudah jauh-jauh hari acara tersebut direncanakan, sehingga aku punya kesempatan untuk mengatur jadwalku. Permintaannya adalah menemani mereka untuk pergi berwisata ke pantai-pantai di garis Gunung Kidul. Kuiyakan saja, karena kupikir dia butuh seorang lelaki untuk meyakinkan keluarganya bahwa akan ada yang mengawal perjalanan mereka semua. Yah, walaupun Cing memang sebenarnya kadang terlihat lebih tangguh ketimbang lelaki lain, tapi tetap saja 4 orang wanita yang bepergian jauh ke pedesaan tanpa pengawalan hanya akan menjadi sasaran empuk dari godaan para lelaki. (Wah, kalau yang ini, pasti Cing tidak mungkin tergoda seorang lelaki, kecuali kalau yang menggodanya seorang Andro).

Kami akhirnya bertolak dari kota Yogya pukul 4 dinihari, karena diperkirakan perjalanan akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Tujuan utamanya adalah melihat matahari terbit di Pantai Krakal. Lumayanlah, menikmati pantai di pagi hari bersama 3 wanita cantik. Hihihihi, Cing tidak pernah terhitung wanita cantik. Malah justru dia menjadi sainganku dalam mencari wanita  cantik. Maklum, selera kami sama!

Dalam perjalanan menuju hotel untuk menjemput teman-temannya, barulah Cing mengutarakan maksudnya mengundangku. Bukan untuk menemaninya, tetapi sebagai sebuah perjalanan perpisahan. Dia akan bertolak ke Semarang untuk mengejar pekerjaan impiannya keesokan harinya.

Baru beberapa bulan dia kembali ke Yogya setelah bermukim di Surabaya selama beberapa tahun untuk kuliah dan menjalani kerja praktek selama setahun di Belanda. Sekarang dia sudah harus pergi lagi. Rasanya sedikit sedih untuk melepas kepergiannya lagi, setelah bisa berjumpa dan beraktivitas bersama selama beberapa saat. Seorang teman yang sudah kukenal semenjak kami masih berumur tiga tahun, menjadi sahabat, bertengkar, menyanyikan lagu-lagu Mandarin oldies yang sama, dan bahkan baru-baru ini kami come out bersama. Ternyata setelah sekian lama berpisah, menjalani jalan yang berbeda, kami berakhir pada permasalahan orientasi seksual yang sama. Sama-sama menyukai sesama jenis! Hihihihi! Dan parahnya, ternyata selera cewek kami berdua hampir sama. Bisa-bisa kami rebutan cewek. Ga lucuuuu!

Dengan benak yang dipenuhi pikiran itu, jadilah tiga temannya seolah diabaikan dan tidak memperoleh perhatian yang besar dalam perjalanan itu. Kami berbincang-bincang cukup lama di dalam mobil, membicarakan hal-hal yang sifatnya roaming internasional bagi ketiga temannya. Mulai dari memori sewaktu SD, mengenai cita-cita dan keluarga.

Bahkan ketika sampai di pantai, kami menyusuri pantai itu berdua, sementara ketiga gadis yang lain asyik berfoto-foto. Dalam keterasingan dari dunia itu, kami berdua mulai membicarakan sisi lain dari kehidupan kami yang tidak diketahui banyak orang. Bagaimana kegagalan cinta kami, bagaimana kehidupan keluarga para gay dan lesbian yang baik. DIa menceritakan mengenai wanita-wanita yang pernah dicintainya, dan bagaimana perjalanan selanjutnya. Aku mencurahkan semua kisah masa lampau tentang lelaki-lelaki yang pernah mengisi hidupku. Tentang keluarga kami, yang sangat susah untuk dihadapi, apalagi kalau kami benar-benar come out kepada keluarga.

Dalam perjalanan pulang, kami menyanyi bersama diiringi oleh alunan MP3 Melissa Etheridge. Sebodo amat dengan tiga gadis lain yang tergolek di jok belakang. Cing hanya berkomentar, “Dulu waktu kecil, kita menyanyi bersama lagu-lagu Teresa Teng, sekarang setelah kita dewasa, ternyata masih bisa menyanyi bersama lagu-lagu Melissa Etheridge!”

Rasanya hari itu benar-benar menjadi sebuah perjalanan yang tidak terlupakan. Undangan perpisahan yang disamarkan dengan permintaan minta tolong untuk menemaninya dan teman-temannya.

EPILOG : Ternyata, teman-temannya dengan iseng mengambil beberapa foto kami yang sedang berdua, sehingga member kesan bahwa kami sedang pacaran. Gila, mana mungkin daku pacaran dengan cing? Parahnya, foto itu diupload di facebook!!! Huahahahahahahahahaha!!!!!!!!

Perbicangan Intimidatif

Posted in Uncategorized on November 12, 2009 by silentsection

Akhirnya blog ini kuupdate juga. Maaf, selama ini masih disibukkan dengan bertumpuk-tumpuk koreksian. Ternyata jadi pengajar yang  baik dan disiplin itu susah ya? Koreksian  tugas banyak banget.

Umm, ini sebenernya sebuah obrolan yang tidak kusangka akan kembali terjadi.

Settingnya ada di meja makan dengan ibunda tercinta.

Setelah kemarin posisiku di keluarga menjadi jauh lebih aman karena ada peristiwa Miyabi (ada di beberapa post sebelum ini), serta ada seorang mahasiswi yang baru PDKT denganku, peristiwa ini kupikir tidak akan berulang. Ditemani sepiring nasi dengan sayur dan segelas teh hangat sewaktu sarapan.

“Le, kemarin ternyata ada kasus. Yang cerita bu Yayuk dan Tetra. Mereka berdua sampe stress karena mikir kasus ini!”

Kudengarkan saja sambil lalu. Ah, gosip ibu-ibu pikirku.

“Anaknya bu Yayuk dan anaknya bu Tetra itu ternyata homo!”

BUUUURT!! Sumpah, pada saat itu, aku berasa mau menyemburkan teh yang ada di mulutku. Firasatku sudah berubah jadi jelek. Setiap kali membicarakan tentang homo, pasti ibunda berubah menjadi menyebalkan dan sinis sembari melihat ke arahku.

“Bu Yayuk dan Tetra sampe sakit mikir anak mereka itu. Mereka langsung diare berhari-hari karena stress. Waktu kemarin bu Yayuk cerita ke aku, aku langsung ikut stress!”

Uh-oh, ini dia. Jadi berasa kembali ke jaman-jaman jahiliyah sebelum aku disidang dulu.

“Hati-hati, ternyata homo dan gay itu sekarang sudah merambah ke semua kalangan, sampai ke kalangan bawah. Bahkan mereka sudah mulai merekrut pemuda-pemuda desa!”

OMG, ini lagi. Omongan tentang rekrutmen gay yang selalu jadi andalan bunda. Dia selalu berpikir bahwa gay itu mirip dengan organisasi teroris yang selalu merekrut orang untuk menguasai dunia. Sebuah pikiran aneh, yang sampai sekarang aku sendiri pun tidak tahu bagaimana mengubahnya.

“Pokoknya, awas kalo kamu jadi homo! Itu kejahatan yang paling kejam. Dan ingat, semua hubungan homo itu selalu berakibat pada HIV / AIDS atau penyakit kelamin lainnya!”

Waduh, rasanya waktu itu aku pengen teriak, HALOOOOO, ada kondooom gitu loh! Tangan bergetar, dan mata mulai tidak fokus.

“Pokoknya yang jelas, aku masih berusaha untuk percaya sama kamu, bahwa kamu tidak akan mengulangi yang dulu. Tapi kalau kamu menyalahgunakan kepercayaanku, aku tidak peduli kamu anakku, pasti kamu bakal sengsara!”

Eeeeuuuuuh! KENAPAAAAA??? KENAPA harus ada kasus ini yang kembali membawa pikiran-pikiran aneh itu ke kepala ibuku????????? Dan kenapa dia harus securiga itu? Dengan ide-ide anehnya itu???

Cong SMA Ngomongin Cong

Posted in Uncategorized on October 31, 2009 by silentsection

Bukan, judulnya bukan terinspirasi dari bukunya Fa!!!!!!!!!!!! (Sebenernya itu judul gw tulis terakhir dan begitu jadi, loh? kok jadi mirip judul bukunya Fa???)

Beberapa hari yang lalu, seperti biasanya menjalankan tugas keluar kota mingguan dari kantor. Diminta membantu mengajar di sebuah SMA berasrama yang cukup terkenal di daerah Muntilan, Jawa Tengah. Programnya sih, program peningkatan prestasi siswa dalam olimpiade ilmu pengetahuan dan debat bahasa Inggris. Humm, kayanya ketauan deh, aku mengajar yang mana.

Nah, kali itu, aku sudah sangat bingung memilih motion debat yang akan dipakai. Dalam kebingungan dan ketidaksiapan (karena malam sebelumnya malah sibuk bermain PS 2.. Wkwkwkwkwkwkwk!), akhirnya muncullah sebuah motion secara spontan, This House Would Support Same-Sex Marriage.

Dasarnya anak-anak SMA yang masih polos dan naif, mereka langsung gossipingmemasang muka jijik dan berebutan masuk ke tim negatif. Nah, ironisnya lagi, gays, 4 dari 6 siswa di situ membunyikan gaydarku dengan sangat kuat. Sejak awal ketemu dengan mereka, sebuah suara keras di dalam kepalaku sudah menjerit-jerit, “Cong! Cong! Cong!” Kemeja yang kancingnya dibuka banyak sampai pamer dada, dengan kalung kayu, plus gerakan-gerakan gemulai ditambah dengan bibir monyong dan suara halus. Ya ampun, super ngondek deh!

Belum cukup sampai di situ lagi, argumen-argumen yang mereka berikan itu benar-benar mengocok perut. Mereka memberikan argumen dari sesuatu yang bahkan tidak mereka (coba) pahami.

Bayangkan, alasan melegalisasi pernikahan sesama jenis adalah mengurangi pertumbuhan penduduk. Hanya karena banyak pasangan heterosexual yang tidak menginginkan anak ketika menikah, maka lebih baik apabila mereka “dipaksa” menikahi sesama jenisnya. Sehingga dari pernikahan itu tidak akan membuahkan seorang anak pun. Ini dianggap lebih efektif daripada penggunaan kondom yang sering bocor itu. GUBRAK!!!!!! Kayanya yang gay kepengen jadi straight, ini ada program membuat orang2 straight jadi gay. Sumpah, aku menahan ketawa beneran waktu denger ini…………..

Yang aneh lagi adalah pandangan dari tim negatif. Alasan kenapa mereka tidak melegalkan pernikahan sejenis adalah penyebaran penyakit kelamin. Menurut mereka, dua lelaki sehat yang berhubungan sesama jenis akan tiba-tiba menderita Gonorhea, HIV, atau Syphilis. Ya ampun, mereka pikir penyakit itu bisa tercipta begitu saja???

Sumpah, sudah argumennya lucu dan menggelikan, hampir semuanya datang dari “cong-cong-yang-sudah-cong-banget-tapi-belum-meletek” Huahahahahahahahaha! Haduh, ngakak abis deh. Sampai-sampai di kertas yang kupakai untuk menulis evaluasi ke mereka (yang untungnya kusimpan sendiri), ada banyak tulisan gede CONG dan DENIAL!!!!!!!