Menapaki tahun 2010 ini, ada harapan cerah yang menggantung. Apalagi tahun 2009 sudah kututup dengan kecelakaan yang cukup parah. Harapannya, kecelakaan itu sebagai suluh pembuang sial 2009 dan kesialan terakhir, sehingga 2010 bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sayang, tahun 2010 justru dibuka dengan tragedi yang sangat besar dan parah.
Di hari pertama tahun 2010, secara tidak sengaja HP cong ketinggalan di kasur sewaktu aku ke kamar mandi. Ketika aku balik mau mengambilnya, HP itu sudah raib entah kemana. Kucari-cari hingga ke seluruh rumah, tidak ada. Kumiscall, sudah tidak berbunyi. Sementara waktu sudah mendesak untuk berangkat ke acara natalan. Akhirnya, kuputuskan untuk meninggalkannya dulu.
Di acara natalan, adikku tiba-tiba mendekatiku dan berbisik. “Aku butuh ngomong sama kamu nanti kalau pas ibu nggak ada di deket kita!” Segera saja aku menggamit tangannya dan bertindak seolah-olah kami sedang membicarakan sesuatu sambil pergi ke tempat sepi.
“Hape-mu disembunyikan ibu. Tadi waktu kamu pergi, ada SMS masuk yang langsung dibaca ibu. Itu SMS dari kecenganmu yang di Jakarta. Ibu langsung mukanya merah dan menunjukkannya padaku! Awas, tapi jangan bilang ibu kalau aku yang kasih tahu kamu!”
Siiiiiiing. Dadaku langsung berdegup kencang, perutku langsung mual-mual. Kemungkinan-kemungkinan buruk langsung melintas di pikiranku. Doa natalan bersama sekalipun tidak bisa mengalihkan pikiranku yang kalut. Syukurlah, dengan natalan itu, ibu bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi aku tahu, dia akan menyimpan kemarahan itu. Selama seharian, aku hanya terdiam dan tidur di rumah, mencoba tidak menemui ibu.
Sampai akhirnya aku berpikir bahwa aku tidak bisa menghindar selamanya. Cing menyarankan aku untuk mengakui semuanya saja. Papi Cantik yang kutelepon hanya menyarankanku untuk menghadapi semuanya dengan ikhlas, termasuk kemungkinan terburuk.
Benar, suasana di ruang makan sudah tegang, tapi aku harus bertindak seolah-olah tidak tahu apa-apa. Sampai akhirnya keluar sebuah pertanyaan ketus dari mulut ibu, “Emang enak jadi homo?”
Aku dicecar selama berjam-jam. Semuanya menyakitkan hati, mengingat itu keluar dari mulut bapak dan ibu sendiri.
Mereka bahkan sampai hati menuduhku menerima sejumlah besar uang transferan di bank, bahwa aku dibayar untuk berhubungan seks, bahwa aku cowok panggilan yang melayani orang-orang dari luar kota. Di dalam hati, aku berteriak, “Aku memang cong, mungkin bukan orang baik-baik, tapi aku juga tetap masih punya harga diri!!”
Di penghujung malam, aku disodori pilihan, Keluar dari jaringan homoseksual atau keluar dari rumah. Jiah? Jaringan? Kaya semacam MLM dan gank? Ibuku bahkan bertanya, siapa yang merekrutku, apakah ada semacam sumpah khusus untuk menjadi gay, apakah ada sanksi dari teman-teman yang lain.
Mungkin aku yang terlalu pengecut, atau terlalu bodoh dan menyayangi keluarga, jadi aku memilih untuk tetap bersama dengan keluargaku. Konsekuensinya, HP, Modem, Laptop, Kunci rumah, Kartu kredit, STNK, dan kunci motor ditahan selama sebulan. Bahkan tadinya sempat muncul usulan dari ibunda agar aku keluar dari tempat kerjaku yang sekarang, karena dianggap aku terpengaruh lingkungan sekitar kerja.
Masalah masih belum selesai keesokan harinya. Aku masih dicecar dengan kata-kata dan tuduhan menyakitkan. Termasuk asumsi mereka bahwa kalau menjadi gay, aku harus siap untuk mati dimutilasi, harus siap untuk menjalani BDSM, harus siap untuk hidup tua dan tersiksa sendirian karena tidak ada yang merawat.
Yang lebih buruk lagi, ibuku memberitahukan keadaanku kepada seorang tetangga yang sudah menganggapku anak sendiri. Kontan si ibu tetangga itu shock besar, dan kesalahan itu pun ditimpakan kepadaku, karena aku sudah membuat orang yang menyayangiku shock berat. Kata-kata tuduhan bahwa aku tidak berbakti pada orang tua pun keluar dengan sedemikian mudahnya. Tidak berbakti dan tidak bisa membanggakan orang tuanya, tidak sukses, berdosa, menyimpang, dll.
Tidak cukup sampai di situ, seorang tante yang sangat sayang denganku juga diberitahu oleh ibu. Sampai rasa-rasanya aku ingin berteriak, “Sudah, tulis saja di koran biar semua orang tahu!”
Aku lebih memilih mendapatkan siksaan fisik daripada siksaan mental kaya gini. Mendingan dipukulin sampai mati sekalian deh. Karena nila setitik rusak susu sebelanga!
Malam harinya, aku dipaksa untuk online dan menghapus account manjam di hadapan bapakku. Untunglah mereka tidak tahu bahwa aku punya blog ini. Yang mereka tahu adalah official blog yang isinya baik-baik.
Satu lagi tuntutan dari ibu yang sangat tidak masuk akal, aku harus menikah di akhir 2010! Gila!!! Itu menggelikan dan tidak akan menyelesaikan masalah.
Untunglah semalam aku bisa mendapatkan hape dan modem kembali. Entah malaikat mana yang melembutkan hati ibu. Tapi kartu kredit dan laptop masih ditahan.
PS : Maaf buat teman-teman blogger yang menantikan postingan buka kartu untuk akhir tahun. Karena tragedi itu, aku baru bisa online hari ini. Postingan itu akan menyusul, yang jelas masih belum telat karena masih Januari. Ada lagi yang bersedia dibuka kartunya?