Parting

Posted in Uncategorized on November 23, 2009 by silentsection

You can’t take a trip, if you don’t first say goodbye

LIrik lagu itu menggambarkan bagaimana dalam hidup ini kita kadang-kadang harus meninggalkan sesuatu untuk memulai hal yang baru. Dan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada saat bertemu dan saat berpisah. Kadang-kadang memang susah mengucapkan selamat tinggal itu, terutama kepada seseorang yang cukup dekat dengan kita, tapi kalau itu harus dilakukan untuk kemajuan dan kebahagiaan tersebut, keikhlasan lah yang harus menjadi ujung tombak lidah kita.

Beberapa hari yang lalu, Cing mengajakku untuk menemani dia dan beberapa teman-nya dari luar kota yang datang berkunjung ke Yogya. Sudah jauh-jauh hari acara tersebut direncanakan, sehingga aku punya kesempatan untuk mengatur jadwalku. Permintaannya adalah menemani mereka untuk pergi berwisata ke pantai-pantai di garis Gunung Kidul. Kuiyakan saja, karena kupikir dia butuh seorang lelaki untuk meyakinkan keluarganya bahwa akan ada yang mengawal perjalanan mereka semua. Yah, walaupun Cing memang sebenarnya kadang terlihat lebih tangguh ketimbang lelaki lain, tapi tetap saja 4 orang wanita yang bepergian jauh ke pedesaan tanpa pengawalan hanya akan menjadi sasaran empuk dari godaan para lelaki. (Wah, kalau yang ini, pasti Cing tidak mungkin tergoda seorang lelaki, kecuali kalau yang menggodanya seorang Andro).

Kami akhirnya bertolak dari kota Yogya pukul 4 dinihari, karena diperkirakan perjalanan akan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Tujuan utamanya adalah melihat matahari terbit di Pantai Krakal. Lumayanlah, menikmati pantai di pagi hari bersama 3 wanita cantik. Hihihihi, Cing tidak pernah terhitung wanita cantik. Malah justru dia menjadi sainganku dalam mencari wanita  cantik. Maklum, selera kami sama!

Dalam perjalanan menuju hotel untuk menjemput teman-temannya, barulah Cing mengutarakan maksudnya mengundangku. Bukan untuk menemaninya, tetapi sebagai sebuah perjalanan perpisahan. Dia akan bertolak ke Semarang untuk mengejar pekerjaan impiannya keesokan harinya.

Baru beberapa bulan dia kembali ke Yogya setelah bermukim di Surabaya selama beberapa tahun untuk kuliah dan menjalani kerja praktek selama setahun di Belanda. Sekarang dia sudah harus pergi lagi. Rasanya sedikit sedih untuk melepas kepergiannya lagi, setelah bisa berjumpa dan beraktivitas bersama selama beberapa saat. Seorang teman yang sudah kukenal semenjak kami masih berumur tiga tahun, menjadi sahabat, bertengkar, menyanyikan lagu-lagu Mandarin oldies yang sama, dan bahkan baru-baru ini kami come out bersama. Ternyata setelah sekian lama berpisah, menjalani jalan yang berbeda, kami berakhir pada permasalahan orientasi seksual yang sama. Sama-sama menyukai sesama jenis! Hihihihi! Dan parahnya, ternyata selera cewek kami berdua hampir sama. Bisa-bisa kami rebutan cewek. Ga lucuuuu!

Dengan benak yang dipenuhi pikiran itu, jadilah tiga temannya seolah diabaikan dan tidak memperoleh perhatian yang besar dalam perjalanan itu. Kami berbincang-bincang cukup lama di dalam mobil, membicarakan hal-hal yang sifatnya roaming internasional bagi ketiga temannya. Mulai dari memori sewaktu SD, mengenai cita-cita dan keluarga.

Bahkan ketika sampai di pantai, kami menyusuri pantai itu berdua, sementara ketiga gadis yang lain asyik berfoto-foto. Dalam keterasingan dari dunia itu, kami berdua mulai membicarakan sisi lain dari kehidupan kami yang tidak diketahui banyak orang. Bagaimana kegagalan cinta kami, bagaimana kehidupan keluarga para gay dan lesbian yang baik. DIa menceritakan mengenai wanita-wanita yang pernah dicintainya, dan bagaimana perjalanan selanjutnya. Aku mencurahkan semua kisah masa lampau tentang lelaki-lelaki yang pernah mengisi hidupku. Tentang keluarga kami, yang sangat susah untuk dihadapi, apalagi kalau kami benar-benar come out kepada keluarga.

Dalam perjalanan pulang, kami menyanyi bersama diiringi oleh alunan MP3 Melissa Etheridge. Sebodo amat dengan tiga gadis lain yang tergolek di jok belakang. Cing hanya berkomentar, “Dulu waktu kecil, kita menyanyi bersama lagu-lagu Teresa Teng, sekarang setelah kita dewasa, ternyata masih bisa menyanyi bersama lagu-lagu Melissa Etheridge!”

Rasanya hari itu benar-benar menjadi sebuah perjalanan yang tidak terlupakan. Undangan perpisahan yang disamarkan dengan permintaan minta tolong untuk menemaninya dan teman-temannya.

EPILOG : Ternyata, teman-temannya dengan iseng mengambil beberapa foto kami yang sedang berdua, sehingga member kesan bahwa kami sedang pacaran. Gila, mana mungkin daku pacaran dengan cing? Parahnya, foto itu diupload di facebook!!! Huahahahahahahahahaha!!!!!!!!

Perbicangan Intimidatif

Posted in Uncategorized on November 12, 2009 by silentsection

Akhirnya blog ini kuupdate juga. Maaf, selama ini masih disibukkan dengan bertumpuk-tumpuk koreksian. Ternyata jadi pengajar yang  baik dan disiplin itu susah ya? Koreksian  tugas banyak banget.

Umm, ini sebenernya sebuah obrolan yang tidak kusangka akan kembali terjadi.

Settingnya ada di meja makan dengan ibunda tercinta.

Setelah kemarin posisiku di keluarga menjadi jauh lebih aman karena ada peristiwa Miyabi (ada di beberapa post sebelum ini), serta ada seorang mahasiswi yang baru PDKT denganku, peristiwa ini kupikir tidak akan berulang. Ditemani sepiring nasi dengan sayur dan segelas teh hangat sewaktu sarapan.

“Le, kemarin ternyata ada kasus. Yang cerita bu Yayuk dan Tetra. Mereka berdua sampe stress karena mikir kasus ini!”

Kudengarkan saja sambil lalu. Ah, gosip ibu-ibu pikirku.

“Anaknya bu Yayuk dan anaknya bu Tetra itu ternyata homo!”

BUUUURT!! Sumpah, pada saat itu, aku berasa mau menyemburkan teh yang ada di mulutku. Firasatku sudah berubah jadi jelek. Setiap kali membicarakan tentang homo, pasti ibunda berubah menjadi menyebalkan dan sinis sembari melihat ke arahku.

“Bu Yayuk dan Tetra sampe sakit mikir anak mereka itu. Mereka langsung diare berhari-hari karena stress. Waktu kemarin bu Yayuk cerita ke aku, aku langsung ikut stress!”

Uh-oh, ini dia. Jadi berasa kembali ke jaman-jaman jahiliyah sebelum aku disidang dulu.

“Hati-hati, ternyata homo dan gay itu sekarang sudah merambah ke semua kalangan, sampai ke kalangan bawah. Bahkan mereka sudah mulai merekrut pemuda-pemuda desa!”

OMG, ini lagi. Omongan tentang rekrutmen gay yang selalu jadi andalan bunda. Dia selalu berpikir bahwa gay itu mirip dengan organisasi teroris yang selalu merekrut orang untuk menguasai dunia. Sebuah pikiran aneh, yang sampai sekarang aku sendiri pun tidak tahu bagaimana mengubahnya.

“Pokoknya, awas kalo kamu jadi homo! Itu kejahatan yang paling kejam. Dan ingat, semua hubungan homo itu selalu berakibat pada HIV / AIDS atau penyakit kelamin lainnya!”

Waduh, rasanya waktu itu aku pengen teriak, HALOOOOO, ada kondooom gitu loh! Tangan bergetar, dan mata mulai tidak fokus.

“Pokoknya yang jelas, aku masih berusaha untuk percaya sama kamu, bahwa kamu tidak akan mengulangi yang dulu. Tapi kalau kamu menyalahgunakan kepercayaanku, aku tidak peduli kamu anakku, pasti kamu bakal sengsara!”

Eeeeuuuuuh! KENAPAAAAA??? KENAPA harus ada kasus ini yang kembali membawa pikiran-pikiran aneh itu ke kepala ibuku????????? Dan kenapa dia harus securiga itu? Dengan ide-ide anehnya itu???

Cong SMA Ngomongin Cong

Posted in Uncategorized on October 31, 2009 by silentsection

Bukan, judulnya bukan terinspirasi dari bukunya Fa!!!!!!!!!!!! (Sebenernya itu judul gw tulis terakhir dan begitu jadi, loh? kok jadi mirip judul bukunya Fa???)

Beberapa hari yang lalu, seperti biasanya menjalankan tugas keluar kota mingguan dari kantor. Diminta membantu mengajar di sebuah SMA berasrama yang cukup terkenal di daerah Muntilan, Jawa Tengah. Programnya sih, program peningkatan prestasi siswa dalam olimpiade ilmu pengetahuan dan debat bahasa Inggris. Humm, kayanya ketauan deh, aku mengajar yang mana.

Nah, kali itu, aku sudah sangat bingung memilih motion debat yang akan dipakai. Dalam kebingungan dan ketidaksiapan (karena malam sebelumnya malah sibuk bermain PS 2.. Wkwkwkwkwkwkwk!), akhirnya muncullah sebuah motion secara spontan, This House Would Support Same-Sex Marriage.

Dasarnya anak-anak SMA yang masih polos dan naif, mereka langsung gossipingmemasang muka jijik dan berebutan masuk ke tim negatif. Nah, ironisnya lagi, gays, 4 dari 6 siswa di situ membunyikan gaydarku dengan sangat kuat. Sejak awal ketemu dengan mereka, sebuah suara keras di dalam kepalaku sudah menjerit-jerit, “Cong! Cong! Cong!” Kemeja yang kancingnya dibuka banyak sampai pamer dada, dengan kalung kayu, plus gerakan-gerakan gemulai ditambah dengan bibir monyong dan suara halus. Ya ampun, super ngondek deh!

Belum cukup sampai di situ lagi, argumen-argumen yang mereka berikan itu benar-benar mengocok perut. Mereka memberikan argumen dari sesuatu yang bahkan tidak mereka (coba) pahami.

Bayangkan, alasan melegalisasi pernikahan sesama jenis adalah mengurangi pertumbuhan penduduk. Hanya karena banyak pasangan heterosexual yang tidak menginginkan anak ketika menikah, maka lebih baik apabila mereka “dipaksa” menikahi sesama jenisnya. Sehingga dari pernikahan itu tidak akan membuahkan seorang anak pun. Ini dianggap lebih efektif daripada penggunaan kondom yang sering bocor itu. GUBRAK!!!!!! Kayanya yang gay kepengen jadi straight, ini ada program membuat orang2 straight jadi gay. Sumpah, aku menahan ketawa beneran waktu denger ini…………..

Yang aneh lagi adalah pandangan dari tim negatif. Alasan kenapa mereka tidak melegalkan pernikahan sejenis adalah penyebaran penyakit kelamin. Menurut mereka, dua lelaki sehat yang berhubungan sesama jenis akan tiba-tiba menderita Gonorhea, HIV, atau Syphilis. Ya ampun, mereka pikir penyakit itu bisa tercipta begitu saja???

Sumpah, sudah argumennya lucu dan menggelikan, hampir semuanya datang dari “cong-cong-yang-sudah-cong-banget-tapi-belum-meletek” Huahahahahahahahaha! Haduh, ngakak abis deh. Sampai-sampai di kertas yang kupakai untuk menulis evaluasi ke mereka (yang untungnya kusimpan sendiri), ada banyak tulisan gede CONG dan DENIAL!!!!!!!

Dua Cong Senior

Posted in Uncategorized on October 26, 2009 by silentsection

Aku baru saja datang di rumah mendiang Opa untuk mengantar ibu yang praktek disana. Tiba-tiba, kakak dari Opa, yang biasa kupanggil Mbah Pin, member peringatan dengan nada sinis. “Awas lo, Mo Yang ada di dalam kamar pasien!”

Karena penasaran, aku pun bertanya, siapakah si Mo Yang itu? Dengan nada berapi-api, Mbah Pin memberi penjelasan bahwa Mo Yang itu salah satu temannya yang kecewek-cewekan. “Ati-ati lo Yu, nanti kalo di dalam kamar pasien. Mo Yang suka dengan cowok!”

GUBRAK! Rasanya aku mau tertawa dalam hati. Ada terlalu banyak ironi di dalam peristiwa ini. Yang pertama, Mbah Pin sendiri itu juga kecewek-cewekan dan tidak menikah sampai di usia tuanya. Beliau selalu bersikap sinis tiap kali mendengar ada kabar yang berpacaran. Coba, bagaimana mungkin banyak orang tidak menduga kalau dia cong juga? Bahkan teman-teman straight dan keluarga yang lain sudah membicarakan dirinya selama bertahun-tahun….

Dan seorang cong tua (hihi, maafkan perkataanku ya. Biar bagaimanapun juga, beliau kan kakekku juga!) yang memberi peringatan tentang cong tua lainnya kepada seorang cong muda yang tampan. HUahuahauhauhauhauhauhauahuahauhauhauhauhauhaauhauha! Sepertinya aku tidak perlu khawatir dengan Mo Yang, toh aku tidak tertarik dengan kakek-kakek. Apalagi, bukankah sudah terbukti di banyak kasus bahwa aku cukup invisible di banyak gaydar???

Yang lebih aneh lagi, setelah Mo Yang selesai berobat dengan ibuku (kebetulan hari itu aku terlalu mengantuk untuk  membantu ibu), Mbah Pin bergosip dan mengobrol dengan Mo Yang. Ya ampun, aku menyaksikan dua cong senior yang saling mengobrol. Yang satunya cong banget, dan yang satunya sepertinya masih ada di dalam tahap denial walaupun umur sudah ada di kepala 7.

No offense, tapi adegan-adegan itu berasa lucu. Tidak,  bukan hanya adegan itu yang berasa lucu, tetapi seluruh rangkaian peristiwa ini terasa sangat lucu. Haduh, pokoknya aku tidak mau sampai pada keadaan seperti itu, tidak ingin menjadi cong tua yang homophobic dan masih denial.

Diselamatkan Miyabi

Posted in Uncategorized on October 18, 2009 by silentsection

Miyabi, alias Maria Ozawa, yang sempat booming di kancah underground beberapa tahun lalu secara tiba-tiba ‘comeback’ di kancah yang lebih luas. Semuanya karena rencana pembuatan film ‘Menculik Miyabi’. Kedatangan sang ‘diva’ Maria Ozawa ke Indonesia telah memicu banyak sekali kontroversi, mulai dari level FPI hingga ke level ustadz. Bahkan konon katanya seorang ustad berniat mengundang Miyabi ke rumahnya untuk diceramahi agar berganti posisi (yang lalu menimbulkan joke, menCERAMAHI atau menJAMAHI??? Wkwkwkwkwkwkwk!)

Secara tidak langsung, kontroversi ini cukup membantuku. Dari si jomblo yang tadinya tidak pernah pacaran dan menjadi perhatian dari ibu-ibu di lingkungan perumahan, tante-tante yang mendesakku ntuk segera mencari pacar dan mulai berpikir yang aneh-aneh, hingga ibu yang kadang kala curiga kalau aku ng-date dengan cowok.

Kehebohan Miyabi ini memancing rasa ingin tahu orang-orang tua yang mengaku tidak pernah menonton bokep itu. Mereka semua penasaran ingin melihat seperti apakah muka si ‘diva’ JAV ini. Kebetulan, seorang om baru saja mendapat kopi film-film Miyabi dariku sebanyak 800 MB. Jadilah, dia menceritakan ke semua orang bahwa aku punya koleksi Miyabi.

Dan, pelanggan pertama adalah orang tuaku sendiri… Huks! Aneh ga sih? Nonton bokep bareng orang tua???? Pelanggan kedua adalah om-om dan tante-tante yang lain. Dan yang paling parah, beberapa tetangga yang penasaran ternyata mendapat cerita dari ibuku (yang ternyata ember juga! DASAAAR!) kalau aku punya koleksi Miyabi. Jadilah, aku harus mengkopikan beberapa film untuk beberapa tetangga dekat. Busyet, bisa-bisa aku ganti profesi jadi penyalur bokep nih…..

Tapi, oh tapi, ternyata semua itu ada dampak positifnya. Semua orang berpendapat kalau ternyata si Zhou Yu itu masih normal. Tidak pacaran karena masih fokus ke yang lain, belum menemukan cewek yang pas. Dan, puff! Hilanglah semua dugaan negatif bahwa aku tidak doyan cewek. Bahkan ibuku pun mulai melonggarkan lagi aturan jam malamnya. BEBAAAAAS!!!!!!!

Padahal, koleksi Miyabi dan koleksi bokep gay di komputer proporsinya jomplang! Huahahahahahaha! Kalo Miyabi cuma dalam kisaran MB, yang bokep gay ada di kisaran GB…. Secara dulu dapet Miyabi cuma karena penasaran dengan kehebohan underground.. Apalagi, mukanya Miyabi mesum banget ah. Disentuh sedikit aja udah sok menggelinjang. Mendingan ngeliat mukanya Mason Wyler, Kyle King, ato Dean Monroe….. Hihihihihihihi!!

Arigato Gozaimasu, Miyabi-chan!!!!

Chi? Pri?

Posted in Uncategorized on August 23, 2009 by silentsection

Dua minggu belakangan ini berasa menjadi raja minyak. Dua kali malam minggu selalu bersama dengan 5 wanita-wanita cantik yang juga single. Teman-teman SD yang notabene cici’-cici’ cantik semua. Hehehehe! Dan entah kenapa, teman-teman cowok yang lain selalu berhalangan datang. Jadilah aku yang paling tampan (dan paling hitam) dalam kelompok itu.

Nah, perbincangan diantara cewek-cewek itu lebih sering berkisar di masalah mencari pacar. Dan masalah mereka semua selalu sama, menghadapkan pacar ke orang tua, apalagi kalau “berbeda”.

De, salah satu dari mereka, malahan berkisah. “Sekarang aku jadi kena jam malam. Gara-garanya kemarin sempat pacaran dengan Wa Na (orang Jawa – red). Papa dan Mama jadi mengawasi pergaulanku!”

Cat menyambung kisah itu dengan mengisahkan cerita yang sama, “Papa Mamaku juga kemarin marah karena aku sempet pacaran nggak sama Teng Lang (orang Cina – red). Selalu saja ada tuntutan untuk cari calon suami yang Zhong Guo Ren….”

Cerita yang sama bergulir dalam waktu yang lama. Apalagi aku membawa kartu Tarot, sehingga masalah jodoh ini menjadi berpanjang-panjang. Pada akhirnya, semua berujung pada pertanyaan yang sangat menggelikan.

“Yu, kamu gimana? Papa Mama-mu keberatan nggak kalau kamu pacaran dengan I Ni Ren? Atau ada keharusan juga untuk pacaran dengan Hua Ren?”

Brrrrrrrrrpppp!!!!! Waktu pertanyaan itu ditujukan kepadaku rasanya aku benar-benar ingin tertawa….. Dengan muka mirip Arab dan kulit yang hitam seperti ini, ternyata mereka masih menganggapku Chi… Huahahahahahahaha, sepertinya mereka yang sudah mengenalku sejak usia belia tidak melihat tampilan luar. Wkwkwkwkwk

Tapi ada sesuatu hal lain yang membuat tertawa ironis. Bagaimana mungkin aku menghadapi keharusan seperti itu kalau memilih antara cowok dan cewek saja masih belum bisa?? Lucu juga kalau misalnya harus terpatok pada mencari Zhong Guo Ren demi memenuhi tuntutan, padahal kalau dapetnya cowok juga nggak bakal dikenalkan ke orang tua…..

Ah, lucu dan ironis…..

Country Congs

Posted in Uncategorized on August 6, 2009 by silentsection

Seorang teman istimewa pernah bertanya penuh keheranan padaku. “Kenapa sih kamu selalu bisa didekati dan ketemu dengan gay di tempat-tempat yang tidak pernah terduga?”Kebetulan pernah dapet bos yang gay. Kebetulan pernah ketemu dengan gay di seminar. Kebetulan diajak kencan oleh dosen favorit yang ternyata closetted gay (Duh, kalau ini kebangetan! Padahal dia dosen yang menyenangkan untuk diajak brainstorming!!!) Bahkan yang paling parah, kebetulan teman-teman segank sejak SD juga gay dan lesbian. Katanya, aku ini magnet cong……

Tapi betul juga, ada suatu pertemuan dengan gay di tempat yang tidak pernah terduga sebelumnya. Di tempat KKN!

Setengah tahun setelah gempa Yogya yang menggemparkan itu, aku mengambil KKN. Yang ada di dalam pikiran hanya bagaimana membuat program dengan dana seminim mungkin, serta menghindari pembangunan fisik yang harus dikerjakan sendiri. Pelit memang, tapi berhasil dengan sukses kok waktu itu! Huahahahahahaha!

Di salah satu pelaksanaan program pembangunan fisik, pembetonan jalan (yang notabene dananya dari pemerintah semua. Yang kerja pun warga, kami hanya membantu sedikit-sedikit), ada seorang bapak-bapak yang menyapaku dengan ramah ketika istirahat. Berhubung perhatianku terpusat pada teh hangat dan tempe goreng, aku tidak menoleh ke arahnya. Tapi kenapa ada sesuatu yang ganjil? Sepertinya aura bapak itu agak aneh.

Aku menoleh dan melihatnya. Loh? Mukanya halus, lain dengan wajah bapak-bapak yang lain? Loh? Kok sedikit ngondek? Matih aku! Masa sampe ke desa pedalaman pun ketemu cong?????

“Nanti kapan-kapan kalau punya waktu, maenlah ke rumah, mas. Nonton-nonton film! Sekalian nemenin saya. Di rumah cuma ada saya dan adik saya. Tapi adik saya sering pergi. Temen-temennya diajak juga ya!”

Demi kesopanan, aku mengangguk. “Ya, nanti kalau kami ada waktu kosong ya, pak!”

Beberapa waktu kemudian, baru aku tahu bahwa yang tinggal bersama dia itu bukanlah adiknya. Tetapi temannya. Ketika ketemu, ternyata super ngondeeek! Dari nada-nada tetangga sekitar, sepertinya mereka semua sudah tahu kalau dua lelaki itu adalah pasangan yang tinggal bersama. Orang-orang di desa itu tidak pernah mempermasalahkan kehomoan mereka, tidak juga ada arak-arakan untuk mengusir mereka dari desa itu. Tapi pergaulannya juga tidak seluwes dengan yang lain.

Sepertinya, prasangka-ku pada awal salah. Mungkin bapak itu benar-benar membutuhkan kehadiran kami untuk meramaikan rumahnya. Mungkin dia memang benar-benar kesepian, apalagi ketika pasangannya sedang pergi.

Bottomline? Tetep….. Kayanya memang aku terkutuk untuk jadi magnet cong deh……. Loh? Apa hubungannya???

Coming Out Massal

Posted in Uncategorized on July 22, 2009 by silentsection

Beberapa malam yang lalu, ada undangan reuni kecil-kecilan teman segank waktu SD. Kebetulan salah satu dari kami membuka rumah makan, dan disepakatilah untuk berkumpul di sana. Hanya satu orang yang tidak bisa datang karena masih berada di luar kota.

Ada rencana yang sebelumnya pernah dibahas bersama oleh diriku, Cing, dan Cae. Kami merencanakan untuk membuat kejutan bersama. Kami berencana coming out bersama-sama kepada teman-teman yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri itu.

Acara mengobrol sampai malam itu kadang sedikit menyerempet ke topik yang membuatku dan Cing berpandangan dan tersenyum penuh arti. Reaksi yang sering disalah artikan oleh Git sebagai sebuah romantisme (Yang sepertinya sangat mustahil terjadi di antara kami berdua!!) Dalam suatu momen, Git cepat-cepat menyuruh kami untuk segera mencari pacar, sehingga kalau kami berkumpul, pacar-pacar kami bisa ikut, dan suasana akan menjadi lebih ramai. Terang saja aku dan Cing bertukar pandang penuh kegelian, membayangkan apa yang akan terjadi apabila itu benar-benar terjadi!

6a01156e9cba4c970c0115704c6b8d970c-400wiSetelah Cae datang terlambat dan selesai menyantap makanannya (sementara kami sudah menyelesaikan porsi kedua), diskusi bertambah seru karena Git masih terpana dengan perubahan Cae yang tadinya seorang anak culun menjadi seorang yang sangat metrosexual. Entah kenapa, masih belum ada momen yang terasa sangat pas untuk mengatakan hal itu. Cing tidak mau memulai, sementara kami butuh starter.

Akhirnya dengan penuh kecanggungan, aku yang memulai. “Guys, we have something to announce!”

Suasana menjadi tegang. Git dan Dre saling berpandangan kebingungan. Momen yang aneh! Awkward!

Setelah kesunyian sesaat yang terasa bagaikan berjam-jam, akhirnya aku mengatakan, “I’m bi!”

Git dan Dre masih kebingungan. “Maksudnya apa?”

Jah! Kenapa mereka tidak paham???? Cing bertanya, apakah semua itu perlu dijelaskan lagi? Aku yang sudah merasa aneh langsung memintanya untuk menjelaskan segala sesuatu.

“Jadi begini, Zhou suka cowok dan cewek, sementara aku suka cewek!” terang Cing. Ya ampun, ternyata memang menjadi starter itu sangat tidak menyenangkan! Kami berdua langsung menatap ke arah Cae yang masih terlihat bingung. Sepertinya dia tidak sadar dengan apa yang kami lakukan. Atau lebih tepat dikatakan, dia masih belum menyiapkan mentalnya untuk hal ini.

Dre hanya melongo. Reaksi Git datar-datar saja, “Oh. Itu?” Rasanya dalam hati gemas bercampur aneh. Seandainya dia tahu bagaimana rasanya mengungkapkan hal itu kepada cewek yang pernah membayangi hidupmu selama 11 tahun.

Yang paling lucu adalah reaksi Cae. “He? Kenapa kalian berdua melihat ke arahku??”

“Iya deh, kami akan melihat ke arah lain!” Saat itu juga, aku dan Cing memalingkan muka kami ke belakang. Agak-agak geli gimana gitu rasanya. Kami berdua bertukar pandang dengan Git, dan sepertinya dia tahu maksud kami.

Dre masih tegang dan diam. Git mulai membuka pembicaraan lagi dengan bertanya pertanyaan-pertanyaan standard yang biasa ditanyakan orang awam. Tentang pilihan dan sebagainya. Selesai menanyai kami, dia mulai bertanya ke Cae. “Jadi gimana dengan kamu?”

“Huh? Sepertinya kamu sudah tahu. Iya atau nggak sih?”

“Sebelumnya sih belum. Jadi, apakah kamu seperti Zhou Yu atau ada yang lain lagi?”

Dengan malu-malu, dia menjawab, “Yang lain lagi.”

“Kalau kamu gimana, Dre?” tanya Git. Hihihihi, sejujurnya ini yang kami bertiga harapkan, adanya Chain Reaction. Walaupun akhirnya Dre menjawab bahwa dia masih normal, yang membuat kami bertiga bertukar pandang tanpa diketahui oleh mereka berdua. Pacarnya saja ada di sana, dan setia menunggui serta membantunya berjualan di warung itu sampai jam 11 malam! Yah, sudahlah.. Mungkin memang dia belum siap.

Acara yang tadinya sudah mau diakhiri berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan baru, termasuk tipe favorit kami. Sialnya, Git menanyakan padaku, tipe cewek favoritku seperti apa. Cing tersenyum penuh arti ketika mendengar pertanyaan itu. Mana mungkin aku dengan jujur langsung mengatakan bahwa aku ingin cewek seperti Git??? Sementara itu, dari yang tadinya paling kebingungan, Cae ternyata menjadi orang yang bercerita paling banyak.

Di perjalanan pulang, Cing dan aku bertukar pikiran tentang apa yang kami rasakan setelah melakukan hal gila itu. Ternyata kami berdua tidak merasa apa-apa. Entahlah, mungkin sejak awal kami sudah merasa nyaman dengan kondisi ini. Take it or leave it. Paraaaaah!

Perawan Dansa

Posted in Uncategorized on July 11, 2009 by silentsection

Awal Juli kemarin, akhirnya bisa ikutan gabung dengan arisan bulanan para blogger cong Jakarta. Setelah selama ini dipisahkan oleh ruang dan waktu, dengan dunia maya sebagai jembatan hubungan kami. Pada akhirnya, rencana yang sudah dirancang sejak dua bulan sebelumnya itu bisa terjadi.

Ternyata, para blogger itu tidak beda jauh dengan apa yang selama ini kubayangkan. Ehm, kecuali satu orang yang kubayangkan lain dari kenyataannya. Bukan berarti lebih jelek loh, justru aslinya imut banget dan mirip bakpao. Hehehehe, you know who you are, dude!

Bersamaan dengan ritual bulanan mereka, aku akhirnya mencicipi lantai dansa untuk pertama kalinya. Benar-benar deh, ketauan kalau selama ini jadi anak alim yang nggak pernah pulang pagi. HUahahahahahahahahaha! Yang paling parah, dari baju-baju yang kubawa, ternyata tidak ada yang bener-bener pas untuk dipakai masuk ke club. Sehingga pilihan satu-satunya jatuh pada kemeja lengan panjang warna hitam (yang sebenarnya adalah pakaian formal ke kantor, tapi masuk ke tas karena sortiran dari Hop).

hot nerdDan di dalam club, terjadilah hal-hal yang sudah diramalkan teman-teman di Yogya. Tidak bisa bergoyang dengan luwes!! Benar-benar goyang kaki gajah!!!! Selama mengikuti musik, yang bisa bergerak dengan luwes hanya kaki, sedangkan gerakan tangan tidak bisa seliar orang lain. Yang ada di pikiran waktu itu, “Aduh, kenapa jadi senam Sajojo yah??????? Ato poco-poco????”

Ah, sudahlah. Hitung-hitung belanja mata aja, ngeliat-liat cong-cong lucu! Kapan lagi yah bisa jelalatan belanja mata disana??????

Baru sepuluh menit mencoba bergoyang, tiba-tiba ada seseorang yang mendekati. Lumayan lucu juga sih. Persis di depanku, dia mengajak ajojing bersama. Mati aku! Gimana aku harus gerak???? Si koko lucu ini memeluk pinggangku dan menempel sambil membantuku bergoyang.

“Kamu cakep, badanmu bagus. Siapa namamu?” tanyanya sambil menempelkan bibir di telinga demi menghalau suara musik yang ingar bingar itu. Busyet! Badan bagus???? Dengan “tas pinggang” yang menggelambir ini??? Dari situlah kami mulai berkenalan. Setelah beberapa saat, dia bertanya, “Mana handphone kamu?” Sepertinya dia ingin bertukar nomor, tapi aku tidak memberikan handphoneku kepadanya. Ada kekhawatiran, siapa tahu dia mengambil handphoneku dan tidak dikembalikan lagi…..

Score! Satu nomor telepon kukantongi. Koko lucu itu kembali ke tempat duduknya, sementara aku menepi ke meja bar, mendekati teman-teman.

Tahu-tahu, ada seseorang yang menyodorkan pitcher coca-colanya padaku. Karena belum haus, aku menolaknya. Beberapa menit kemudian, lelaki lain yang ada di sebelahnya kembali menyodorkan pitchernya. AKu menolak lagi dengan halus. Pikirku, aku masih punya satu pitcher cola untuk kami berlima.

Kembali mencoba bergoyang, dan lelaki pertama yang menawarkan pitcher cola itu menempel padaku. Ternyata, dia dan temannya sudah lama memperhatikanku. Wah, wah, berasa laku. Padahal biasanya selalu menjadi invisible person….. Terjadi kembali acara tukar menukar nomor telepon. Second Score!

Orang kedua yang menawarkan pitcher itu kemudian bergantian dengan temannya mengajakku bergoyang. Lagi-lagi, tukar-menukar nomor telepon. Hat trick! WOW!

Sayang, si lelaki ketiga ini tidak mau melepaskanku. Jadi, tidak ada kesempatan untuk belanja mata lagi. Haduh, tipe posesif…… Padahal, siapa tahu aku masih bisa double hattrick, atau malah mungkin triple hattrick! Jiahahahahahaha! Dasar manusia, memang tidak pernah puas dengan apa yang sudah didapat.

Yah, sepertinya aku berhutang juga pada Sinmau yang sudah menjadi make-up artist. Coba kalau tidak ada dia, mungkin aku akan masuk club dengan kaos lusuh dan celana jeans…..

Sejak Kuda Gigit Besi, mas…..

Posted in Uncategorized on June 29, 2009 by silentsection

Beberapa hari ini, kembali menjadi seorang pemandu wisata amatiran dengan mengantar teman-teman dari Bandung yang bertandang ke Yogya. Hop and the gank. Ada Tas dan Aml yang selalu mesra berdua, dan beruntungnya tidak ada orang yang melihat ke arah mereka dengan keheranan. Sepertinya itu keuntungan yang dimiliki oleh pasangan lesbian….

Ada juga De, yang salah satu pertanyaannya akan dibahas di dalam postingan ini.

Kejadiannya sewaktu kami ada di sebuah toko souvenir terkenal di Yogya, yang juga terkenal dengan pelayannya yang semuanya cong, apalagi pemiliknya yang hobi cross-dressing. (Jah, komplet  banget. Pasti orang-orang yogya pada ngerti!) Kami sedang melihat-lihat gantungan kunci unik yang berbentuk phalus dan Ms. V. Tiba-tiba, De bertanya padaku, “Sejak kapan binan?”

Aku cuma diam. Gimana aku mau jawab? Bukannya nggak mau jawab, tapi nggak ngerti harus jawab apa.  Kayanya si De salah tangkap. “Eh, bukan binan ya? Maaf!”

GUBRAK! Kayanya ada yang nggak nyambung deh…..

Tapi serius, sampe sekarang masih selalu bertanya-tanya, kenapa masih ada aja cong yang menanyakan pertanyaan kaya gitu yah? Aku sendiri tidak pernah merasa ada titik penting dimana tiba-tiba aku memutuskan untuk jadi cong. Setahuku, yang ada justru titik dimana kita memutuskan untuk menjalani kehidupan yang ada ini tanpa pretensi apapun, setidaknya kepada diri sendiri.

Sama seperti pertanyaan menyebalkan kedua yang juga sering ditanyakan cong. “Kenapa dulu jadi binan?” Huaaaaaaa! Kalau bisa tahu, sudah bisa membelokkan jalan dari dulu tuh! Kompleks, dude, kompleks!

Sebenernya sisi bitchy dalam diriku waktu itu pengen jawab, “Sejak jaman kuda gigit besi, daku sudah suka cowok!” Tapi sepertinya, sisi malaikat yang lembut dalam diriku yang menang dan menutup mulutku serta membelalakan mataku……..